Ligaindonesiabaru.id – Dalam peta persaingan sepak bola global, Belgia sering kali dijuluki sebagai “Raksasa Kecil”. Meskipun wilayah geografisnya tidak seluas negara-negara adidaya sepak bola lainnya, namun prestasi dan kualitas pemain yang mereka hasilkan sangat luar biasa. Jika Anda bertanya, apa julukan tim nasional Belgia, dunia mengenalnya dengan sebutan The Red Devils.
Namun, di balik sebutan yang terdengar garang tersebut, tersimpan narasi panjang tentang identitas bangsa, persatuan di tengah keberagaman bahasa, hingga revolusi sepak bola yang mengubah tim semenjana menjadi penguasa peringkat FIFA. Artikel ini akan mengupas tuntas segala hal mengenai “Setan Merah” dari Belgia, mulai dari akar sejarahnya di awal abad ke-20 hingga prospek cerah mereka menuju tahun 2026.
Julukan The Red Devils atau dalam bahasa lokal dikenal sebagai Rode Duivels (Belanda) dan Diables Rouges (Prancis) adalah salah satu julukan tertua di dunia sepak bola internasional yang masih eksis hingga saat ini. Menariknya, julukan ini lahir bukan dari keputusan resmi federasi, melainkan dari pengamatan jurnalisme yang tajam.
Asal-usul nama ini bermula pada tahun 1906. Setelah serangkaian pertandingan persahabatan di mana Belgia tampil sangat dominan—terutama saat menggilas Belanda dengan skor 5-0 dan Prancis dengan skor yang sama—seorang editor majalah olahraga terkemuka saat itu, Pierre Walckiers dari La Vie Sportive, menuliskan kesan yang mendalam.
Walckiers terkesima dengan kecepatan lari para pemain Belgia dan warna jersey mereka yang merah menyala. Ia menulis bahwa para pemain itu bermain “seperti setan” ( comme des diables ). Istilah ini merujuk pada energi yang meledak-ledak, semangat pantang menyerah, dan kegigihan dalam memburu bola. Sejak tulisan itu terbit, publik mulai menggunakan istilah tersebut secara luas hingga akhirnya dipatenkan sebagai julukan resmi tim nasional.
Banyak penggemar sepak bola modern yang lebih dulu mengenal Manchester United sebagai “The Red Devils”. Namun, secara historis, Belgia telah menggunakan julukan ini jauh lebih awal. Manchester United baru mengadopsi julukan tersebut pada tahun 1960-an atas inisiatif Sir Matt Busby (terinspirasi dari tim rugbi Salford), sementara Belgia sudah menyandang status “Setan Merah” sejak awal 1900-an.
Pemilihan warna merah sebagai identitas utama tim nasional Belgia merupakan cerminan dari semangat kebangsaan mereka.
Tricolore Belgia: Bendera nasional Belgia terdiri dari warna Hitam, Kuning, dan Merah. Secara historis, warna merah melambangkan keberanian dan darah para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan bangsa.
Aura Intimidasi: Dalam psikologi warna, merah sering dikaitkan dengan agresi dan dominasi. Ketika dikombinasikan dengan julukan “Setan”, warna merah pada jersey Belgia memberikan tekanan psikologis tersendiri bagi lawan yang menghadapi mereka di lapangan.
Evolusi jersey mereka juga menarik. Meskipun warna dasar tetap merah, desainnya sering kali memasukkan elemen grafis yang modern, melambangkan transisi Belgia dari tim tradisional menuju kekuatan sepak bola modern yang canggih.
Salah satu aspek yang membuat julukan The Red Devils begitu bermakna adalah fungsinya sebagai perekat bangsa. Belgia adalah negara yang secara linguistik terbagi menjadi komunitas penutur bahasa Belanda (Flanders), bahasa Prancis (Wallonia), dan sedikit bahasa Jerman.
Seringkali terjadi ketegangan politik antar wilayah ini, namun di dalam stadion sepak bola, perbedaan itu melebur. Saat “Setan Merah” turun ke lapangan, tidak ada lagi orang Flemish atau Walloon; yang ada hanyalah pendukung tim nasional. Inilah mengapa tim nasional Belgia sering disebut sebagai satu-satunya institusi yang benar-benar bisa menyatukan seluruh rakyat Belgia. Julukan Rode Duivels dan Diables Rouges diteriakkan secara serempak di tribun, menciptakan harmoni dalam keberagaman.
Berbicara mengenai Belgia tidak mungkin tanpa membahas periode luar biasa yang dimulai pada awal dekade 2010-an. Inilah masa di mana julukan “Setan Merah” benar-benar terasa menakutkan bagi tim manapun di dunia.
Setelah kegagalan lolos ke beberapa turnamen besar di awal 2000-an, federasi sepak bola Belgia (RBFA) melakukan perombakan total. Mereka mewajibkan setiap klub profesional untuk mengadopsi pola latihan 4-3-3 yang seragam dan fokus pada pengembangan teknik individu.
Hasil dari investasi jangka panjang ini adalah lahirnya talenta-talenta luar biasa yang bermain di klub-klub elit Eropa:
Vincent Kompany: Bek karismatik yang menjadi pondasi pertahanan.
Eden Hazard: Penyihir di sayap yang memiliki kemampuan dribel kelas dunia.
Kevin De Bruyne: Maestro lapangan tengah yang dianggap sebagai salah satu pemberi umpan terbaik dalam sejarah sepak bola.
Romelu Lukaku: Striker bertenaga besar yang menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi Belgia.
Pencapaian paling fenomenal dari generasi ini adalah keberhasilan mereka menduduki peringkat 1 dunia FIFA selama hampir empat tahun berturut-turut (2018-2021). Meskipun mereka belum berhasil meraih trofi mayor di level senior, konsistensi mereka di papan atas membuktikan bahwa julukan “Setan Merah” bukan sekadar gertak sambal.
Puncak dari kejayaan para “Setan Merah” terjadi pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Turnamen ini menjadi panggung di mana identitas mereka sebagai salah satu tim terbaik dunia diakui secara mutlak.
Kemenangan paling dikenang adalah saat mereka menumbangkan Brasil di babak perempat final. Melalui serangan balik yang sangat cepat dan taktik yang jenius, Belgia membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim “kuda hitam”, melainkan tim elit yang mampu mendikte permainan melawan juara dunia lima kali. Meskipun akhirnya harus puas di posisi ketiga, medali perunggu tersebut adalah pencapaian tertinggi dalam sejarah sepak bola Belgia.
Mengapa tim nasional Belgia begitu sulit dikalahkan di era modern? Jawabannya terletak pada fleksibilitas taktis mereka.
Di bawah asuhan pelatih seperti Roberto Martinez dan pelatih-pelatih selanjutnya menuju tahun 2026, Belgia tidak terjebak pada satu gaya bermain. Mereka bisa bermain sangat dominan dengan penguasaan bola tinggi (terutama karena pengaruh De Bruyne), namun mereka juga sangat mematikan dalam transisi cepat. Kecepatan pemain sayap seperti Jérémy Doku yang muncul belakangan ini menambah dimensi serangan yang membuat julukan “Setan Merah” tetap relevan dengan gaya main yang agresif dan tajam.
Berikut adalah rangkuman data yang memperkuat reputasi besar sang The Red Devils:
| Kategori | Pencapaian / Detail |
| Pencapaian Piala Dunia | Peringkat 3 (2018), Peringkat 4 (1986) |
| Pencapaian Piala Eropa | Runner-up (1980) |
| Lama di Peringkat 1 FIFA | Lebih dari 1.000 hari |
| Pencetak Gol Terbanyak | Romelu Lukaku (80+ Gol dan terus bertambah) |
| Pemain Caps Terbanyak | Jan Vertonghen (150+ Penampilan) |
| Kemenangan Terbesar | 9-0 (vs San Marino & Gibraltar) |
| Stadion Kandang | King Baudouin Stadium, Brussels |
Banyak kritikus yang menganggap bahwa era “Setan Merah” akan berakhir seiring dengan penuaan para pemain Generasi Emas. Namun, anggapan itu sepertinya keliru. Menjelang Piala Dunia 2026, Belgia sedang melakukan regenerasi yang sangat mulus.
Munculnya nama-nama baru seperti Amadou Onana, Charles De Ketelaere, dan Lois Openda membuktikan bahwa pabrik talenta Belgia tidak pernah berhenti berproduksi. Dengan infrastruktur pelatihan yang semakin canggih dan pengalaman yang didapat dari kegagalan di masa lalu, Belgia diprediksi akan tetap menjadi kontender kuat yang patut diwaspadai di Amerika Utara tahun 2026 mendatang.
Sebagai penutup, apa julukan tim nasional Belgia? Jawabannya adalah The Red Devils. Namun, kita harus melihat julukan ini sebagai lebih dari sekadar identitas di atas kertas. Julukan ini adalah warisan dari tahun 1906 yang terus dihidupkan melalui keringat dan kerja keras setiap pemain yang mengenakan jersey merah.
“Setan Merah” adalah simbol ketangguhan sebuah negara kecil yang berani bermimpi besar. Mereka mengajarkan dunia bahwa dengan pembinaan yang tepat, persatuan bangsa yang kuat, dan filosofi permainan yang jelas, siapapun bisa menguasai dunia. Dari era Paul Van Himst hingga era 2026, suara gemuruh “Come on You Reds!” akan selalu membahana, mengingatkan semua orang bahwa sang raksasa dari Eropa Barat ini selalu siap untuk kembali menggegerkan dunia.
Ligaindonesiabaru.id - Pertandingan menarik akan tersaji di babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 ketika raksasa…
Ligaindonesiabaru.id - Babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 kembali menyajikan duel sengit yang mempertemukan dua…
Ligaindonesiabaru.id - Pertandingan krusial babak penyisihan Grup C Piala Dunia 2026 akan mempertemukan dua kekuatan…
Ligaindonesiabaru.id - Pertandingan sengit akan segera tersaji di matchday kedua babak penyisihan grup Piala Dunia…
LigaIdonesiabaru.id - Babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 kembali menyajikan duel menarik yang mempertemukan raksasa…
Ligaindonesiabaru.id - Matchday kedua babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 menyajikan duel sengit yang mempertemukan…